Wednesday, May 8, 2013

Kupang: Gong Perdamaian Nusantara

Bandara El Tari
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam 15 menit (dihitung dengan waktu transit di Surabaya) akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat di pelud El Tari Kupang. Udara yang cukup panas menyambut kedatangan kami siang itu. Bandara El Tari ternyata hanya sebuah Bandara kecil saja, tempat pengambilan bagasi hanya ada satu, pendek dan tidak melingkar.

Kupang merupakan Ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur terletak di pulau Timor, salah satu pulau terbesar di propinsi yang memiliki 550 pulau, Rote yang merupakan pulau paling selatan Indonesia. Tekstur tanah Kota Kupang mayoritas adalah karang.

Jalan raya Timor: menuju ke Timor Leste
Berbicara tentang Pulau Timor ingatanku langsung kepada Timor Timur yang kini telah menjadi Negara Timor Leste. Timor Leste memang berada di pulau yang sama dengan Kupang. Pulau Timor bagian barat merupakan bagian dari propinsi NTT sedangkan bagian timurnya adalah Negara Timor Leste. Pulau Timor merupakan pulau ke tiga di Indonesia setelah Kalimantan dan Irian yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.

Kupang merupakan kota yang terletak dilereng bukit dan berhadapan dengan teluk Kupang. Meskipun merupakan ibukota propinsi, namun rasanya masih belum seberkembang ibukota propinsi lain. 

Gong Perdamaian
Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah lokasi Gong Perdamaian Nusantara yang terletak di taman Nostalgia. Konon gong ini peresmiannya dilakukan oleh Pak SBY pada 9 februari 2011.

Kononnya lagi "Gong Perdamaian Nusantara" merupakan "Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa" yang secara khusus diciptakan oleh The World Peace Committee (Komite Perdamaian Dunia) yang misinya untuk menyatukan seluruh elemen Bangsa Indonesia menuju kejayaan Nusantara yang kita cita-citakan bersama. 450 Tahun yang lalu, tepatnya di desa Plajan Kabupaten Jepara- Jawa Tengah, dilereng Gunung Muria telah disematkan sebuah semangat dan cita-cita luhur, sebuah keinginan yang kuat untuk menuju Peradaban Damai yang simbolisasinya dibuat dalam bentuk Gong oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga di Tanah Jawa, yang memiliki keinginan luhur untuk menembus lapis peradaban yang saat itu berkembang, menuju puncak Peradaban tertinggi yakni peradaban Damai.

View ke laut yang indah
Gong Perdamaian Nusantara ini merupakan salah satu dari enam gong perdamaian yang ada di Indonesia. Gong-gong lainnya terdapat di kota Yogyakarta, Palembang, Kutai Kartanegara, Jakarta, dan Ambon.
bandara di waktu pagi

Kononnya lagi seluruh Gong Perdamaian Nusantara yang tersebar di Indonesia, dibuat di kota Jepara.

Thursday, April 11, 2013

Bukittinggi-Maninjau


Jalanan Padang nan mulus
Jadi pingin lagi nulis nerusin cerita perjalanan ke Padang, terutama setelah beberapa hari lalu menempuh perjalanan ke wilayah Jawabarat tepatnya kota Sukabumi dan suatu wilayah di daerah Cianjur Selatan. Bila anda bertanya apa hubungannya antara cerita perjalanan ke Padang dengan perjalanan ke Jabar? Ya gak ada hubungan memang selain sama-sama “barat” hanya saja yang membuat saya surprise adalah mengenai jalan di dua propinsi ini yang kondisinya sangat bertolak belakang. Selama perjalanan di Propinsi Sumbar saya tidak menemukan jalan yang rusak, kemana-mana jalan berhotmix dan mulus, setidaknya pada jalan2 yang saya lewati didalam perjalanan dari kota Padang ke suatu wilayah di peloksok Padang Pariaman, lalu juga dari Padang ke Bukittinggi lalu balik ke Padang melalui Padang Pariaman dengan melewati ruas jalan melalui danau Maninjau, tak menemukan jalan berlubang atau beraspal tambalan. Sebaliknya dalam perjalanan saya ke Jawabarat saya melihat betapa jalan kemana-mana hancur, dari Cianjur kota ke Cianjur Selatan bahkan dari Cianjur ke kota Sukabumi lalu lanjut ke pintu tol Ciawi rasanya tidak berlebihan bila saya katakan lebih dari 90% jalan rusak berat.


Balik lagi ke Sumatera Barat. Menyangkut urusan pekerjaan hari itu kegiatan memang di kota Padang dan telah selesai sebelum jam 12, masih tersisa waktu untuk bisa jalan2 ke Bukittinggi. Berangkatlah kami kesana dengan objek yang pertama di datangi adalah air terjun lembah anai, sayangnya hari itu hujan turun cukup lebat dan kami tidak sempat foto2 di air terjun; “kalau mau foto nanti aja pak pulangnya, mudah2an udah gak hujan” kata Robby, driver yang mengantar kami, maka lanjutlah kami ke Lembah anai dan Lobang Jepang. (ternyata pulangnya kami tidak melewati air terjun karena perjalanan kami lanjut ke danau Maninjau dan pulang lewat ke Pariaman). Untuk dapat masuk ke Lobang Jepang dan menatap pemandangan menakjubkan dari lembah Anai kita harus masuk ke Taman Panorama, kalau gak salah ingat tiket masuknya perorang rp 3,000,- itu hanya dapat masuk ke Taman Panorama dengn view ke lembah Anai saja sementara untuk dapat masuk ke Lobang Jepang didalam harus bayar lagi rp 5,000,-/orang dan kami bayar rp 50,000,- untuk jasa pemandu, karena kami fikir kalau tanpa pemandu kami hanya akan punya pengalaman masuk saja tanpa tahu cerita sejarahnya dari tempat2 didalam Lobang Jepang itu.

Lobang Jepang menyerupai goa, merupakan bunker peninggalan Jepang saat menjajah Indonesia. dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.


Selepas dari Lobang Jepang lalu kami lanjut ke lokasi Jam Gadang. Mengenai Jam Gadang inilah kata Wikipedia: Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti "jam besar".


Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan sebagai objek wisata dengan diperluasnya taman di sekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara jam ini.


Diseberang Jam Gadang terletak Istana Bung Hatta, dan mengenainya inilah kata Wikipedia: Istana Bung Hatta atau Gedung Negara Tri Arga terletak di pusat Kota Bukittinggi tepatnya di depan taman Jam Gadang. Dulunya, tahun 1946 gedung ini di jadikan sebagai Istana Wakil Presiden Republik Indonesia pertama, Drs. Mohammad Hatta, dan Tahun 1947 gedung ini di jadikan sebagai Pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Sekarang, Nama gedung ini di ganti dengan Gedung Istana Bung Hatta untuk mengenang jasa Mohammad Hatta sebagai Proklamator Indonesia.
Usai mengisi perut disebuah rumah makan diseberang Jam Gadang perjalanan kami lanjutkan menuju danau Maninjau. Mengenai danau Maninjau, inilah kata Wikipedia: Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.
Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.
Danau Maninjau

Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.

Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.





Dari Maninjau kami tidak balik ke Bukittinggi tapi langsung ke Padang melalui Pariaman, melewati daerah yang sehari sebelumnya kami datangi. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan malam itu kami tiba kembali di hotel dalam keadaan lumayan letih.

Friday, March 8, 2013

Yokoso Padang



Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 1,5 jam akhirnya pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta mendarat di bandara Minangkabau kota Padang. Dalam rintik hujan kamipun menaiki mobil yang menjemput kami ke bandara. Kami berada disini selama beberapa hari untuk suatu pekerjaan di Propinsi Sumatera Barat. Tentu saja bukan sisi pekerjaannya yang akan saya ceritakan disini melainkan jalan-jalannya. Ya, ibarat kata pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,  harus ada sisi hiburannya lah, apalagi kerjaanku di propinsi ini bukanlah kerjaan kantoran melainkan kerjaan lapangan yang mengharuskan kami menempuh perjalanan yang lumayan jauh ke peloksok, sayang bila harus melewatkan keindahan alam dan pemandangan Sumatera Barat.
Di hari pertama selain menempuh perjalanan Jakarta-Padang tentu saja apa yang harus kami lakukan berikutnya  adalah  mengurus sisi administrasi ke instansi terkait di tingkat Propinsi tentang pekerjaan yang akan kami lakukan. Dan ketika dikatakan kepada kami bahwa pekerjaan akan dilakukan esok hari maka langkah selanjutnya adalah mencari penginapan. Rupanya oleh penjemput kami di arahkan untuk menginap di sebuah hotel baru yang belakangan setelah kami menginap kami sadar bahwa ternyata ini adalah hotel yang pada saat terjadi gempa di padang beberapa tahun lalu hotel ini ambruk dan menelan banyak korban jiwa, itu dia hotel Ambacang yang kini telah berganti nama menjadi the Axana Hotel.


ex hotel Ambacang, nyaman aja kok

Selesai check in hotel, sopir dari mobil yang kami sewa  (sewa Avanza per 24 jam rp 250,000,- sopir rp 100,000,-, bensin dan makan sopir tentu kita yang tanggung) menawarkan kami untuk jalan2 seputar kota Padang terserah kami mau ke mana. Maka sore itupun kami berjalan-jalan ke beberapa tempat, diantaranya ke pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malin Kundang-nya.

menuju ke pantai Air Manis
Pemandangan saat menuruni bukit menuju ke pantai sangat indah. Harga tiket masuk ke lokasi pantai adalah  rp 5,000,-/orang dan rp 5,000,- untuk mobil masuk.


Meskipun tempat ini berbayar namun ternyata untuk mencapai batu malin kundang jembatan penyebarangannya sangat jauh dari layak dan sangat membahayakan, hanya terbuat dari kayu alakadarnya, dan di ujung jembatan kayu beberapa pemuda tanggung menyetop langkah kami dengan meminta bayaran "serelanya", katanya bayaran buat ngebangun jembatan darurat tersebut... lho jadi kemana pengelolanya ya?
Jembatan malin kundang...

 

 
Tempat lain yang kami kunjungi adalah pantai Teluk Bayur dan Pelabuhan laut Bungus. Bungus adalah pelabuhan perikanan samudera dan juga pelabuhan fery Padang-Mentawai.


mau nya sih nyebrang juga ke Mentawai, tapi gak ada waktu
Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata tentang indahnya pemandangan sepanjang pantai dan alam disekelilingnya. Sambil menikmati indahnya pantai kami kemudian menyadari suatu hal yang ganjil bahwa sepanjang pantai banyak sekali mobil-mobil dan sepeda motor terparkir tapi kami tidak melihat orang, selain satu dua penjaja makanan/minuman.


di belakang, ya bedeng2 itu....
Maka ketika keheranan itu kami ungkapkan saat berhenti di suatu titik untuk membeli minuman, sang sopir mengatakan bahwa itu adalah kendaraan orang-orang yang sedang pacaran, orang-orangnya sendiri berada pada gubuk gubuk sewaan yang berada di bawah jalan, ditepi pantai. Masya Allah kok segitunya ya...

teluk bayur


Berikutnya karena udah sore kami putuskan balik ke hotel dan sebelum tiba di hotel mampir dulu untuk makan ikan bakar sambil menikmati pemandangan pantai di sore hari, niatnya sih sekalian lihat sun set tapi karena hari mendung dan berkabut maka mataharipun tidak nampak.
ikan bakar aja

Itulah sepenggal kegiatan dihari pertama, untuk hari berikutnya nantilah ceritanya disambung, pegel juga nih ngetik dan mikirnya..

Tuesday, January 15, 2013

Oleh-Oleh dari India

Setelah menempuh perjalanan selama  lebih kurang 6 jam akhirnya Air India pesawat yang kami tumpangi dari Singapore  itupun mendarat di Indira Gandhi International Airport, New Delhi. Bandara yang  cukup bagus dan nyaman. Setelah menyelesaikan semua pemeriksaan dokumen oleh imigrasi, kami masih harus menunggu selama beberapa jam untuk penerbangan kami selanjutnya ke kota Amritsar, karena tujuan pertama kami di India adalah ke wilayah Punjab. Ketika check in untuk penerbangan ke Amritsar kami tidak langsung dilayani dan disuruh menunggu dan ternyata Air India membatalkan penerbangannya ke Amritsar  malam itu dikarenakan cuaca yang berkabut di kota Amritsar yang katanya tidak memungkinkan pesawat untuk mendarat. Untuk para penumpangnya kemudian Air India menyediakan bis sebagai konpensasi penerbangan yang batal, dan kami yang membeli tiket pesawat di Jakarta dipersilahkan untuk mengklaim tiket yang batal untuk penerbangan itu nanti di Jakarta. Meski dengan  berat hati karena harus menempuh perjalanan darat lebih dari 10 jam, akhirnya dalam udara yang cukup  dingin kami habiskan malam itu didalam bis yang membawa kami dari bandara Indira Gandhi ke Amritsar.


Kami berada di India selama lebih kurang 2 minggu dan berikut ini beberapa fotonya.




















Wednesday, August 29, 2012

Matahari Terbit di Sanur

Sanur tentunya bukanlah suatu kata yang asing bagi para pelancong yang mempunyai ketertarikan dengan Bali, sebagai nama tempat wisata pantai yang letaknya berada di sebelah timur kota Denpasar, ibu kota Bali, tepatnya di kabupaten Badung.

Konon Pantai Sanur ini lebih dahulu dikenal dibandingkan dengan pantai Kuta.

Pantai Sanur yang memiliki keindahan, ketenangan, dan panorama matahari terbit menjadi tujuan dari para wisatawan mencari alternatif pantai lain setelah Kuta atau Legian yang terlalu hiruk-pikuk oleh penuhnya para wisatawan domestik dan mancanegara.

Pantai Sanur memiliki panjang 3 kilometer dengan garis pantai menghadap timur, terkenal dengan pasirnya yang berwarna putih bersih dan lembut. Disamping itu, pantai Sanur merupakan pantai yang berbatu karang sehingga memiliki kelebihan tersendiri. Ombak di pantai ini sudah termasyur diantara para peselancar dari seluruh penjuru dunia. Sanur juga terkenal dengan desa-desa yang masih tercium aroma tradisionalnya, ada juga pasar tradisional, dan pasar seni yang menjual aneka pernak-pernik khas Bali.



Pantai ini juga merupakan komplek hotel, bungalow dan penginapan. Jumlah hotel, bungalow dan penginapan di sini diperkirakan lebih dari seratus. Konon sebagian hotel di sini sudah dibangun sejak tahun 1940.

Jadi ketika anda berada di Bali dan ingin melihat dan menikmati sensasi penampakan matahari terbit dari ufuk Timur datanglah sepagi mungkin ke Pantai Sanur. Rasakan sensasinya saat menampak langit di ufuk timur terlihat mulai memerah, disusul kemunculan matahari secara perlahan, memancarkan sinarnya yang kemerahan.

Wednesday, August 8, 2012

Garuda Wisnu Kencana

Patung Garuda Wisnu Kencana atau lebih dikenal sebagai GWK terletak di kawasan Bukit Jimbaran merupakan sebuah karya masterpiece seniman Bali, I Nyoman Nuarta. 

Kawasan ini rencananya dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi landmark bagi pariwisata Bali dan Indonesia.

 Patung GWKmemiliki jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. 

Highlight dari objek wisata ini adalah 2 patung, yaitu Patung Wisnu dan Patung Garuda. Patung yang berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah dewa Pelindung dan pemelihara, mengendarai burung Garuda. Diambil dari cerita “Garuda dan Kerajaannya” dimana rasa bhakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan dan akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu. 

 Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter.

Harga tiket masuk ke lokasi ini adalah: rp 30,000 untuk dewasa, rp 25,000 untuk anak-anak dan pelajar serta rp 60,000,- untuk orang asing.

Designed and built by Nyoman Nuarta, one of Indonesia’s foremost modern sculptor, the Garuda Wisnu Kencana statue or GWK and its pedestal building will be standing 150 meters tall with its wings span 64 meters across. 

Made from more than 4000 tons of copper and brass, the statue is picturing Lord Wisnu, as the source of wisdom, riding on the back of the mythical bird Garuda as the manifestation of conscience toward Amerta, the perennial goodness. 

The statue and its pedestal will be surrounded by more than 240 hectares cultural park which was once an abandoned and unproductive limestone quarry. The cultural park will provide attractions for both local and foreign visitors with supporting facilities such as Lotus Pond, Festival Park, Amphitheater, Street Theater, Exhibition Hall, as well as Jendela Bali The Panoramic Resto and souvenir shop. At present time, the statue of Wisnu, the statue of Garuda, and the hands of Wisnu have been placed temporarily in three different plazas within the park.

admission fee: Rp 60,000,- for foreigner.

Thursday, August 2, 2012

Blue Turaco, Mto Wa Mbu, Tanzania

Most countries have a national cuisine or dish that visitors are told they must try. It is often the highlight of a trip. From escargot in Paris to freshly made naan in India, I have loved trying new dishes while traveling. It is easy to use a guidebooks to find restaurants that serve excellent examples of a country’s most famous dishes. However, sometimes you just don’t love what a country has to offer or maybe you eat so much of it you make yourself sick. I had this experience while studying abroad in Tanzania. This was not a luxury safari trip, so we ate where the locals ate at red Coca-Cola tables just off the street. Pretty much any place that has these plastic tables is generally safe to eat at.



Although eating with locals definitely improved my minimal Swahili the choices were very limited. The national dish is ugali and is a very white, beyond bland, spongy starch made of maize. It is a good way to get calories and is filling, but has absolutely no flavor. It is usually used to scoop up stews with your hands. Unfortunately, even with a great stew I found I really preferred rice.



So here I was in Mto Wa Mbu, Tanzania and pretty much all there is to eat is ugali and barbecued goat, which has great flavor, but is incredibly stringy. So it was a delight to discover Blue Turaco. It had just opened when we arrived in Mto Wa Mbu and the chef was an incredibly nice older Tanzanian. This is not a typical restaurant for Mto Wa Mbu, instead it serves napoli style pizza. And a really good one at that. Now my taste buds may have lowered their expectations a little bit after only eating rice and beans and a kale like green vegetable, but Blue Turaco makes a pretty amazing pizza. It was an incredibly unique find, and one that was not replicated for the rest of my 10 weeks in Tanzania and Kenya. This was not a restaurant run by ex-pats, but natives and my favorite pizza used “Arusha” cheese from a nearby larger city. With a cold Kili beer it makes for a great evening off the beaten path.

To learn about more exciting and non traditional travel destinations subscribe to the Off The Beaten Path newsletter. This weekly newsletter will send hidden gems straight to your inbox to help you plan your trip or just inspire your next one! (By: Liz Yin)